Penjelasan durhaka kepada orang tua dalam Islam

Durhaka kepada orang tua (ibu dan bapak) termasuk dosa besar dan sama hukumannnya dengan syirik kepada Allah, yaitu neraka jahanam. Sebagaimana Sabda Nabi saw, yang berbunyi:

Dari Abdullah bin 'Amr bin 'Ash r.a, dari Nabi saw, beliau telah bersabda: "Dosa-dosa besar ialah menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh manusia dan sumpah palsu" (H.R. Bukhari)

Karenanya setiap manusia wajib berbakti dan menghormati kedua orang tuanya. Berbakti kepada kedua orang tua tidak terbatas pada masa keduanya masih hidup, sesudah keduanya meninggalpun bakti itu masih tetap merupakan kewajiban.

Ada sebagian orang menyesal karena belum sempat membalas budi kepada kedua orang tuanya, tetapi mereka sudah tiada. Untuk ini tidak perlu menyesal, karena Rasulullah telah memberikan tuntunan yang berbunyi sebagai berikut:

Abu Ubaid (Malik) bin Rabi'ah Assa'idy r.a berkata: "Ketika kami sedang duduk di dekat Raulullah saw tiba-tiba datanglah seseorang laki-laki dari Bani Salimah dan bertanya: "Ya Rasulullah, apakah masih ada jalan untuk berbakti terhadap kedua orang tuaku sesudah mati keduanya? Jawab Nabi: "Ya, menyembahyangkan (mendoakan) dan meminta ampunan kepada Allah untuk keduanya, melaksanakan janji (wasiat)nya, dan menghubungi keluarga yang hanya dihubungkan oleh keduanya, dan menghormati teman-teman keduanya" (H.R. Dawud)

Dalam hadits lain Rasulullah juga menyatakan bahwa sebaik-baik bakti adalah menghubungi teman-teman orangtuanya. Selengkapnya sebagai berikut:

Kata Ibnu Umar r.a : Nabi saw telah bersabda: "Sebaik-baiknya bakti seseorang ialah menghubungi teman-teman ayahnya" (H.R. Bukhori)

Begitu wajibnya berbakti kepada kedua orang tua, sehingga Allah menempatkan kewajiban tersebut sebagai kewajiban nomor dua setelah kewajiban berbakti kepada-Nya. Banyak ayat-ayat Al Qur'an dan hadits Nabi yang menyatakan hal-hal tersebut, antara lain sebagai berikut:

"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh[294], dan teman sejawat, Ibnu sabil[295] dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,

[294] Dekat dan jauh di sini ada yang mengartikan dengan tempat, hubungan kekeluargaan, dan ada pula antara yang Muslim dan yang bukan Muslim.

[295] Ibnus sabil ialah orang yang dalam perjalanan yang bukan ma'shiat yang kehabisan bekal. Termasuk juga anak yang tidak diketahui ibu bapaknya.

"Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya. hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Q.S. Al-Ankabut 8)

Dalam ayat lain Allah menyatakan mengapa seseorang wajib berbuat baik kepada kedua orang tua terutama kepada ibu, hal ini tercermin dalam Surat Luqman ayat 14 yang berbunyi sebagai berikut:

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun[1180]. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Q.S. Luqman 14)

[1180] Maksudnya: Selambat-lambat waktu menyapih ialah setelah anak berumur dua tahun.

Secara prinsip dan minimal, bagaimana seseorang harus berbuat baik kepada kedua orang tua, diterangkan oleh Allah dalam Surat Al-Isra ayat 23-24 sebagai berikut:

23. Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia[850].

24. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (Q.S. Al-Israa 23-24)

[850] Mengucapkan kata Ah kepada orang tua tidak dlbolehkan oleh agama apalagi mengucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar daripada itu.

Demikian penjelasan durhaka kepada orang tua dalam Islam, semoga menambah pengetahuan dalam belajar agama Islam.
Advertisement
Penjelasan durhaka kepada orang tua dalam Islam