9 lembaga ilmu pengetahuan Islam

9 lembaga ilmu pengetahuan Islam yang telah dimiliki oleh umat Islam pada zaman keemasannya ada 9, yaitu: Kuttab, Istana, Rumah ulama, Shalunatul Adabiyah, Masjid atau Jami', Madrasah, universitas, perpustakaan, dan toko buku. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai lembaga-lembaga pendidikan Islam tersebut dijelaskan sebagai berikut:

1. Kuttab

Lembaga ilmu pengetahuan Islam yang pertama adalah kuttab. Kata "Kuttab" berasal dari kata kerja "kataba" yang berarti menulis. Orang yang menulis disebut katib dan jamaknya Kuttab. Jadi, menurut aslinya, Kuttab itu berarti penulis-penulis. Kemudian kata kuttab ditujukan kepada pengertian: suatu tempat yang dipergunakan untuk mengajar/belajar membaca dan menulis. Tempat yang semacam ini sudah ada semenjak zaman sebelum Islam lahir, tetapi penyebarannya sangat lambat. Setelah Islam datang, kuttab yang semacam ini penyebarannya makin meluas.

Di samping kuttab, yang berfungsi sebagai tempat belajar membaca dan menulis ada juga kuttab untuk belajar Al Quran dan agama. Kuttab seperti ini timbul setelah datangnya Islam dan sebagai lanjutan dari kuttab tempat membaca dan menulis.

2. Istana

Lembaga ilmu pengetahuan Islam yang kedua adalah istana. Pada zaman khilafah (kekhalifahan), bagi para putra putri khalifah diadakan suatu pelajaran yang khusus diadakan di istana. Guru-gurunya dipanggil dari luar. Pelajaran yang diberikan kepada mereka selain agama juga kesusastraan.

3. Rumah ulama

Lembaga ilmu pengetahuan Islam yang ketiga adalah rumah ulama. Banyak pula rumah-rumah ulama yang dipergunakan sebagai tempat belajar. Hal ini disebabkan karena darurat. Memang, dalam Islam sendiri keadaan demikian ini dipandang kurang baik, kecuali jika dalam keadaan terpaksa. Rumah-rumah ulama yang pernah digunakan untuk tempat belajar adalah: rumah Arqam Ibnu Arqam. Hal ini disebabkan karena pada masa itu jumlah orang Islam masih sedikit, sehingga untuk mengadakan pelajaran agama secara terbuka dan besar-besaran belum berani. Terpaksa untuk menghindari beberapa kemungkinan yang tidak diinginkan maka rumah Arqamlah yang dipakai tempat belajar.

Selain itu, rumah Nabi Muhammad sendiri setelah keadaan umat Islam agak kuat dipergunakan juga sebagai tempat belajar agama, namun karena keadaan rumah Nabi terlalu sempit maka Nabi mengambil tempat di masjid. Rumah Ibnu Sina juga pernah ditempati untuk belajar, yaitu karena ia tidak mempunyai waktu yang terluang untuk memberi pelajaran di luar rumahnya disebabkan kesibukannya dalam pekerjaan, sedangkan orang-orang pada waktu itu sangat membutuhkan pengetahuan. Untuk memenuhi keinginan tersebut, maka ia mengadakan dan memberikan pelajaran setiap malam di rumahnya.

Rumah Imam Al Ghazali juga pernah di tempati untuk belajar. Pada mulanya beliau adalah seorang guru di madrasah Nizhamiyah. Tetapi karena beliau sedang mengarang kitab dan ingin istirahat, maka ia berhenti dari mengajar. Namun, orang-orang masih membutuhkan terhadap ilmunya, lantas datanglah mereka pada setiap sore ke rumah beliau untuk belajar.

Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa rumah-rumah ulama pada masa itu juga memegang peranan penting dalam penyiaran ilmu pengetahuan, sekalipun hal ini berlangsung hanya dikala darurat saja.

4. Shalunatul Adabiyah

Lembaga ilmu pengetahuan Islam yang keempat adalah Shalunatul Adabiyah. Sejak zaman pemerintahan Khalifah Mu'awiyah sudah merupakan suatu kebiasaan di dalam istana untuk menyediakan semacam ruangan khusus untuk keperluan merundingkan ilmu pengetahuan. Tempat itulah yang dinamakan Shalunatul Adabiyah. Shalunatul Adabiyah memegang peranan penting pada zaman khalifah (pemerintahan) Abbasiyah, sebab banyak para ulama yang mempersoalkan segala macam ilmu pengetahuan, dalam pengertian tidak terbatas hanya kepada pengetahuan agama saja.

Biasanya pokok pembicaraan yang terpenting adalah masalah kesusastraan. Sungguhpun demikian, masalah yang menyangkut kedokteran, hukum dan lain-lain sering pula diperbincangkan. Hal ini tentu disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan peradaban pada masa itu. Perlu diketahui bahwa orang-orang yang dapat dan diperbolehkan menghadiri Shalunatul Adabiyah itu hanya terbatas pada para ulama saja.

5. Masjid atau Jami'

Lembaga ilmu pengetahuan Islam yang kelima adalah masjid atau jami'. Masjid adalah suatu tempat yang resmi bagi umat Islam. Maka Rasul menjadikan masjid mempunyai beberapa fungsi, yaitu disamping sebagai tempat ibadah juga berfungsi sebagai tempat berdakwah, tempat mengadili, tempat belajar dan sebagainya. Seperti telah disinggung di atas bahwa setelah rumah Nabi saw tidak mencukupi lagi untuk tempat belajar, maka Nabi mengalihkannya ke masjid.

Sewaktu Bagdad mencapai zaman keemasannya, maka tercatat jumlah masjid sebanyak 300.000 buah. Semuanya ini selain dipergunakan untuk tempat beribadah juga dipakai sebagai tempat untuk belajar. Di antara sekian banyak masjid tersebut, yang terpenting adalah: Al Jami'atul Manshur, Al Jami'ah Dimasyqi, Jami'ah Amru bin 'Ash di Mesir.

Masjid Jami' Al Manshur di Bagdad dibangun oleh khalifah Al Manshur dan diteruskan oleh khalifah Harun Al Rasyid. Banyak para ulama yang memberikan pelajaran di masjid ini, di antaranya: Al Kisa'i, Abu 'Athiyah dan lain-lain. Al Jami'ah Dimasyqi termasuk salah satu bangunan yang terbesar pada masa itu dan memegang peranan yang tidak kecil bagi penyebaran ilmu pengetahuan dan pengembangan kebudayaan.

Jami'ah Amru bin 'Ash di Mesir dibangun oleh khalifah Amru bin 'Ash. Di sana banyak para ulama yang memberikan ilmu pengetahuannya, antara lain: Imam Asy Syafi'i dan At Tabari. Di sana diajarkan fiqih dari semua madzhab empat dan di samping itu pada sore hari diberikan pelajaran mengenai kedokteran.

6. Madrasah

Lembaga ilmu pengetahuan Islam yang keenam adalah madrasah. Oleh karena beberapa hal, akhirnya tempat memberi pelajaran dipindahkan dari masjid ke madrasah. Adapun sebab-sebabnya yang terutama ada tiga, yaitu: Pertama: banyak orang yang beribadat merasa terganggu oleh banyaknya murid yang sedang belajar di masjid tersebut. Kedua: banyak juga pelajaran yang membutuhkan suara yang keras. Dan yang ketiga: pelajaran itu sendiri sering terganggu.

Orang yang pertama kali mendirikan madrasah adalah Nizhamul Muluk, wazir dari khalifah Albi Arsilah yang kemudian diganti oleh putranya bernama Malik Syah. Madrasah tersebut dinamai Madrasah Nizhamiyah yang diambilkan dari nama pendirinya. Lama-kelamaan madrasah makin bertambah banyak dan meluas ke seluruh jazirah Arab dan Mesir. Pada mulanya pelajaran (istilah sekarang: bidang studi) yang diberikan di madrasah hanya pelajaran agama saja tetapi lambat laun dilengkapi pula dengan ilmu pengetahuan yang lain. Madrasah yang paling terkenal ialah: Nizhamiyah dan Nuriyah.

7. Universitas

Lembaga ilmu pengetahuan Islam yang ketujuh adalah universitas. Madrasah-madrasah tersebut banyak sekali yang terus maju hingga meningkat menjadi suatu Perguruan Tinggi atau Universitas. Misanya: Nizhamiyah, Mustansiriyah, Rasyidiyah, Al Azhar dan beberapa madrasah yang ada di Spanyol. Ketika itu para pecinta ilmu pengetahuan dari seluruh penjuru dunia Eropa baik yang beragama Yahudi maupun yang beragama Nashrani berduyun-duyun datang ke universitas-universitas Islam untuk belajar bersama saudara-saudaranya yang beragama Islam.

8. Perpustakaan

Lembaga ilmu pengetahuan Islam yang kedelapan adalah perpustakaan. Pada masa pemerintahan Abbasiyah, pabrik kertas sudah ada. Buku-buku mulai ditulis dan dijual oleh toko-toko buku. Buku-buku mulai ditulis dan dijual oleh toko-toko buku. Dengan cara begini timbullah beribu-ribu perpustakaan, baik untuk umum (publik libraries). Pembuatan kertas betul-betul merupakan hadiah yang diberikan oleh Islam kepada Eropa melalui Sicillia dan Spanyol.

Pada abad ke X Mousul mempunyai sebuah perpustakaan yang setiap sarjana diberi kertas dengan gratis. Pada waktu yang bersamaan, pendiri perpustakaan di Bashrah memberi gaji tahunan kepada para sarjana yang bekerja di perpustakaan tersebut. Pada umumnya, perpustakaan sangat mudah meminjamkan buku-buku kepada umum.

Di Spanyol saja terdapat dua puluh perpustakaan umum waktu itu. Perpustakaan Cordova pada abad ke X memiliki kira-kira 600 ribu buku yang pada waktu itu seluruh Eropa (selain Spanyol) mungkin hanya memiliki 10.000 buah buku saja.

Darul Hikmah di Cairo (Mesir) dikabarkan mempunyai 2 juta buah buku, di Tropolis Siria yang telah dibakar oleh Tentara Salib berisi 3 juta buah buku, 50 ribu buah buku, diantaranya ialah Al Quran dan Tafsir. Ini berarti bahwa perpustakaan ini saha memiliki tiga perempat dari apa yang dimiliki oleh perpustakaan Bodlein atau labih dari separuh buku-buku yang dimiliki oleh perpustakaan Pakistan pada masa itu.

Dalam perpustakaan Al Hakim buku-buku diatur dalam 40 kamar, tiap-tiap kamar berisi kira-kira 18 ribu buah buku. Khazinatul Kutub suatu perpustakaan yang didirikan oleh Abdul Ad Daulah seorang Raja Parsi dikelilingi oleh kebun yang indah dan memiliki 360 kamar paviliun.

Sesungguhnya masih banyak lagi perpustakaan yang masyhur di Bagdad, Bashrah, Bukhara dan lain-lain. Di seluruh negeri Islam pada masa itu setiap masjid disediakan tempat khusus untuk menyimpan buku-buku.

Orang-orang pada masa itu ahli dalam bidang perpustakaan, bahkan sarjana yang masyhur seperti Ibnu Sina, Ibnu Maskawaih dan Al Busthi juga memegang jabatan dalam perpustakaan. Bagian-bagian yang terdapat dalam perpustakaan terdiri dari: Al Ghazin (Kepala Perpustakaan), penterjemah, penulis, penjilid, pencatat peminjam buku dan pengembaliannya.

9. Toko buku

Lembaga ilmu pengetahuan Islam yang terakhir adalah toko buku. Toko-toko buku pada zaman dahulu memainkan peranan penting dalam penyebaran ilmu pengetahuan. Sifat dan keadaannya tidak seperti toko-toko buku zaman sekarang. Toko-toko buku semacam ini timbul pada zaman Abbasiyah, Pada masa itu semua buku masih harus ditulis, bukan dicetak, maka para penual buku adalah orang-orang pandai.

Tentu saja banyak orang yang sengaja datang untuk turut mempersoalkan ilmu pengetahuan, di samping memang bermaksud membeli buku. Dengan demikian jadilah toko-toko buku tersebut sebagai tempat penyebaran dan percaturan ilmu pengetahuan. Di antara para penjual buku itu ialah Yakut dan Abil Faraj Al Asfahani, ahli sastra pada masa itu.


Demikian 9 lembaga ilmu pengetahuan Islam, semoga menambah wawasan yang bermanfaat bagi pengunjung blog 114 Surat Alquran. Kami menghormati kritik dan saran yang bersifat membangun.
Advertisement
9 lembaga ilmu pengetahuan Islam