Kedudukan filsafat dalam Islam

Kedudukan filsafat dalam Islam - Apakah filsafat atau falsafah itu? Menurut Prof. M.T. Thahir Abdul Mu'in dalam buku Sejarah Falsafah Islam, halaman 11 dituliskan: Filsafat atau falsafah adalah ilmu yang menyelidiki tentang hubungan Tuhan, manusia dan alam dengan pikiran yang mendalam dan bebas.

Berbeda dengan ilmu, maka filsafat dalam mencari kebenaran tidak membatasi diri, dengan pengertian  bahwa ia hendak mencari keterangan yang sedalam-dalamnya. Sedangkan ilmu dalam penyelidikannya membatasi diri pada dasar pengalaman.

Dalam membicarakan filsafat Islam, KHMT. Thahir Abdul Mu'in dalam buku berjudul Sejarah Perkembangan Filsafat, halaman 81 mengatakan bahwa: filsafat ialah ilmu tentang segala yang maujud menurut sekedar kekuatan manusia.

Apa yang dikatakan oleh Thahir Abdul Mu'in tersebut sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh I.R. Pudjawijatna dalam buku Pembimbing Ke arah Filsafat, halaman 91, bahwa "Obyek materia filsafat ialah ada dan yang mungkin ada"

Oleh karena yang dibicarakan oleh filsafat itu adalah segala yang maujud, ada dan yang mungkin ada, maka filsafat pada mulanya tertuju ke arah pembahasan tentang alam.

Sehubungan dengan masalah ini, Al Quran telah menjelaskan seperti apa yang tersebut dalam Surat Ali 'Imran ayat 90-91, yang kemudian ditafsirkan oleh Ibnu Katsir jilid I halaman 438.

Surat Ar Rum ayat 8 yang artinya:
"Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. dan Sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan Pertemuan dengan Tuhannya. (R Run: 8)

Tafsiran dari ayat di atas dapat dibaca dalam Tafsir Ibnu Katsir jilid III halaman 427.

Selain dari ayat-ayat tersebut di atas, Al Quran masih banyak mengandung ayat-ayat yang menganjurkan agar manusia mau mempergunakan pikirannya. Oleh Kafrawi dikatakan bahwa kalimat "akal" dengan bermacam-macam bentuk tersebut dalam Al Quran 50 kali (Diktat Kebudayaan Islam I halaman 27).

Diantaranya terdapat ungkapan-ungkapan yang berbunyi "A fala tatafakkarun" (mengapa kamu tidak mau ingat),  "A fala tatadzakkarun" (mengapa kamu tidak mau ingat), "A fala ta'qilun" (mengapa kamu tidak mempergunakan akal), dan sebagainya.

Sebagaimana dikemukakan terdahulu bahwa filsafat membicarakan tentang Tuhan, manusia dan alam. Dengan kata lain bahwa filsafat itu mengandung tiga cara berpikir: berpikir tentang alam, berpikir tentang diri-sendiri, menyelidiki segala sebab dalam hubungan satu sama lainnya, sampai kepada pengertian terhadap sebab yang pertama atau sebab dari segala sebab.

Sedangkan ayat-ayat Al Quran yang telah disebutkan tadi ( dan yang juga tidak dicantumkan di sini juga mengandung atau meliputi tiga macam cara berpikir sebagai mana yang dimiliki oleh filsafat. Maka dengan demikian dapatlah ditarik kesimpulan bahwa filsafat sejalan dengan Islam, malah di dalam Islam filsafat itu mempunyai kedudukan dan peranan yang penting. Sebaliknya secara konkrit dan positif bahwa Islam adalah pembimbing ke arah filsafat yang murni.

Sejarah telah membuktikan bahwa berkat Islamlah maka filsafat itu dapat berkembang dengan baik dan mempunyai kedudukan yang terhormat dalam dunia ilmu pengetahuan, dan Islam pulalah sesungguhnya yang menyelamatkan filsafat Yunani dari saat-saat hampir tenggelamnya.

Demikian ulasan mengenai Kedudukan filsafat dalam Islam, semoga bermanfaat.
Advertisement
Kedudukan filsafat dalam Islam