Memahami Bimbingan Belajar

Memahami Bimbingan Belajar - Menurut Abu Ahmadi dan Ahmad Rohani (1991) bahwa bimbingan belajar merupakan seperangkat usaha bantuan kepada peserta didik agar dapat membuat pilihan, mengadakan penyesuaian, dan memecahkan masalah- masalah pendidikan dan pengajaran atau belajar yang dihadapinya.

Artinya, bimbingan belajar adalah upaya guru pembimbing membantu siswa dalam mengatasi berbagai permasalahan belajar saat proses belajar mengajar berlangsung. Menurut Winkel (1981) bimbingan belajar ialah bimbingan dalam hal menemukan cara belajar yang tepat, dalam mengatasi kesulitan-kesulitan belajar, dan dalam memilih jenis atau jurusan sekolah lanjutan yang sesuai.

Jadi segala permasalahan yang berhubungan dengan belajar, cara mengatasi permasalahan tersebut, maupun saran-saran yang dapat digunakan agar tidak mengalami kesulitan saat proses belajar mengajar berlangsung termasuk dalam layanan bimbingan belajar.

Dewa Ketut Sukardi (2008) mengemukakan bahwa layanan bimbingan belajar adalah: Layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik mengembangkan diri berkenaan dengan sikap dan kebiasaan belajar yang baik, materi belajar yang cocok dengan kecepatan dan kesulitan belajarnya, serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya, sesuai dengan perkembangan ilmu, teknologi, dan kesenian.

Jadi, Bimbingan belajar merupakan salah satu bentuk layanan bimbingan yang penting diselenggarakan di sekolah. Pengalaman menunjukkan bahwa kegagalan-kegagalan yang di alami siswa dalam belajar tidak selalu disebabkan oleh kebodohan atau rendahnya intelegensi. Sering kegagalan itu terjadi disebabkan mereka tidak mendapat layanan bimbingan yang memadai.

Layanan Bimbingan Belajar

Layanan bimbingan belajar dilaksanakan melalui tahap-tahap: (a) pengenalan siswa yang mengalami masalah belajar, (b) pengungkapan sebab-sebab timbulnya masalah belajar, dan (c) pemberian bantuan pengentasan masalah belajar.

1. Pengenalan Siswa yang Mengalami Masalah Belajar
Di sekolah, di samping banyaknya siswa yang berhasil secara gemilang dalam belajar, sering pula di jumpai adanya siswa yang gagal, seperti, angka-angka rapor rendah, tidak naik kelas, tidak lulus ujian akhir, dan sebagainya. Secara umum, siswa-siswa yang seperti itu dapat dipandang sebagai siswa-siswa yang mengalami masalah belajar. Secara lebih luas, masalah belajar tidak hanya terbatas pada contoh-contoh yang disebutkan itu. Masalah belajar memiliki bentuk yang banyak ragamnya, yang pada umumnya dapat digolongkan atas:
  1. Keterlambatan akademik, yaitu keadaan siswa yang diperkirakan memiliki intelegensi yang cukup tinggi, tetapi tidak dapat memanfaatkan secara optimal.
  2. Ketercepatan dalam belajar, yaitu keadaan siswa yang memiliki bakat akademik yang cukup tinggi atau memiliki IQ 130 atau lebih, tetapi masih memerlukan tugas-tugas khusus untuk memenuhi kebutuhan dan kemampuan belajarnya yang amat tinggi itu.
  3. Sangat lambat dalam belajar, yaitu keadaan siswa yang memiliki bakat akademik yang kurang memadai dan perlu dipertimbangkan untuk mendapat pendidikan atau pengajaran khusus.
  4. Kurang motivasi dalam belajar, yaitu keadaan siswa yang kurang bersemangat dalam belajar, mereka seolah-olah tampak jera dan malas.
  5. Bersikap dan berkebiasaan buruk dalam belajar, yaitu kondisi dimana siswa yang kegiatan atau perbuatan belajarnya sehari-hari antagonistik dengan yang seharusnya, seperti suka enunda-nunda tugas, mengulur-ulur waktu, membenci guru, tidak mau bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahuinya, dan sebagainya.
Siswa yang mengalami masalah belajar seperti tersebut dapat dikenali melalui prosedur pengungkapan melalui tes hasil belajar, tes kemampuan dasar, skala pengungkapan sikap dan kebiasaan belajar, dan pengamatan.

Tes Hasil Belajar

Tes hasil belajar adalah suatu alat yang disusun untuk mengungkapkan sejauh mana siswa telah mencapai tujuan-tujuan pengajaran yang ditetapkan sebelumnya. Siswa-siswa dikatakan telah mencapai tujuan pengajara apabila dia telah menguasai sebagian besar materi yang berhubungan dengan tujuan pengajaran yang telah ditetapkan.

Ketentuan ini merupakan penerapan dari konsep belajar tuntas (mastery learning) yang didasarkan pada asumsi bahwa setiap siswa dapat mencapai hasil belajar sebagai yang diharapkan jika dia diberi waktu yang cukup dan bimbingan yang memadai untuk mempelajari bahan yang disajikan.

Ketuntasan penguasaan bahan ditentukan dengan menetapkan patokan, yaitu persentase minimal yang harus dicapai oleh siswa yang belum menguasai bahan pelajaran sesuai dengan patokan yang ditetapkan, dikatakan belum menguasai tujuan-tujuan pengajaran.

Siswa yang seperti ini digolongkan sebagai siswa yang mengalami masalah dalam belajar dan memerlukan bantuan khusus. Sedangkan siswa yang sudah menguasai secara tutas semua bahan yang disajikan sebelum batas waktu yang ditetapkan berakhir, di golongkan sebagai siswa yang sangat cepat dalam belajar. Mereka ini patut mendapat tugas-tugas tambahan sebagai pengayaan.

Tes Kemampuan Dasar

Setiap siswa memiliki kemampuan dasar atau intelegensi tertentu. Tingkat kemampuan dasar ini biasanya diukur atau diungkapkan dengan mengadministrasikan tes intelegensi yang sudah baku. Beberapa tes yang terkenal dalam bidang ini antara lain ialah Progressive Matrices (PM), Weachler Intelligence Scale (WAIS dan WISC), Stanford Binet Intelligence Scale (SBIS). Dalam banyak skala intelegensi, kemampuan dasar manusia diklasifikasikan sebagai berikut:
  • 140 ke atas – Sangat cerdas
  • 120 – 139 – Cerdas
  • 110 – 129 – Di atas rata-rata
  • 90 – 109 – Normal atau rata-rata
  • 80 – 89 – Di bawah rata-rata
  • 70 – 79 – Bodoh
  • Di bawah 70 – Sangat bodoh
Hasil belajar yang dicapai siswa seharusnya dapat mencerminkan tingkat kemampuan dasar yang dimilikinya. Siswa yang kemampuan dasarnya tinggi akan mencapai hasil belajar tinggi pula. Bilamana seorang siswa mencapai hasil belajar lebih rendah dari teraan intelegensi yang dimilikinya, maka siswa yang bersangkutan digolongkan sebagai siswa yang mengalami masalah dalam belajar.

Skala Sikap dan Kebiasaan Belajar

Sebagian dari sikap dan kebiasaan siswa belajar itu dapat diketahui dengan mengadakan pengamatan dalam kelas. Misalnya, dalam hal mengerjakan tugas-tugas, membaca buku, membuat catatan, dan kegiatan-kegiatan lain yang berhubungan dengan belajar siswa. Tetapi penagmatan baiasanya terbatas pada sikap dan kebiasaan yang dapat diteriama oleh alat indra.

Untuk mengungkapkan sikap dan kebiasaan yang lebih luas telah dikembangkan beberapa alat yang berupa “Skala Sikap dan Kebiasaan Belajar”. Salah satu diantaranya yang paling populer ialah Survey of Study Habits and Attitudes (SSHA) yang disusun oleh W.F. Brown dan W.H. Holtzman (versi 1954 dan 1960), yang telah disadur dalam bahasa Indonesia. Alat ini dapat mengungkapkan derajat cara siswa mengerjakan tugas-tugas sekolah, sikap terhadap guru, sikap dalam menerima pengajaran dan kebiasaan dalam melaksanakan kegiatan belajar.

Dengan memperhatikan derajat sikap dan kebiasaan belajar siswa itu akan dapat diketahui siswa-siswa mana yang sikap dan kebiasaan belajarya sudah memadai dan perlu terus dipelihara, serta siswa-siswa mana yang memerlukan bantuan khusus dalam meningkatkan sikap dan kebiasaan belajar yang belum sebagaimana dikehendaki itu.

Tes Diagnostik

Tes Diagnostik merupakan instrumen untuk mengungkapkan adanya kesalahan-kesalahan yang dialami oleh siswa dalam bidang pelajaran tertentu. Misalnya untuk mata pelajaran berhitung/matematika apakah dijumpai kesalahan-kesalahan dalam operasi berhitung, atau pemakaian rumus-rumus; untuk pelajaran bahasa dijumpai kesalahan-kesalahan dalam penerapan tata bahasa dan pemakaian ejaan. Untuk semua mata pelajaran diharapkan dapat disusun dan dibuatkan tes diagnostiknya masing-masing.

Dengan tes diagnostik sebenarnya sekaligus dapat diketahui kekuatan dan kelemahan siswa. makin sedikit siswa membuat kesalahan pada tes dignostik , makin kuatlah siswa pada materi pelajaran yang bersangkutan; dan sebaliknya. Siswa-siswa yang ternyata sudah cukup kuat dalam mata pelajaran yang dimaksud dianjurkan untuk terus memupuk kekuatan mereka itu, sedang kan siswa yang masih mengalami banyak kesalahan berarti memerlukan bantuan khusus.

Analisis Hasil Belajar atau Karya

Analisis hasil belajar atau belajar atau karya merupakan bentuk lain dari tes diagnostik. Tujuannya sama, yaitu mengungkapkan kesalahan-kesalahan yang dialami oleh siswa dalam mata pelajaran tertentu. Apabila tes diagnostik disusun, dibakukan dan diselenggarakan dalam bentuk tes (sebagian besar tertulis), analisis hasil belajar merupakan prosedur yang pelaksanaannya dilakukan dengan jalan memeriksa secara langsung materi hasil belajar yang ditampilkan siswa, baik melalui tulisan, bentuk grafik atau gambar, bentuk tiga dimensi yang berupa model, maket, dan bentuk-bentuk tiga dimensi hasil kerajinan dan keterampilan tangan lainnya, serta gerak dan suara. Bentuk hasil belajar yang lain dapat berupa foto, film, maupun rekaman video.

Dalam analisis hasil belajar atau hanya materi yang dimaksudkan dicermati melalui pengamatan yang sistematik dengan mempergunakan pedoman tertentu. Hasil pengamatan itu dibandingkan dengan kriteria yang telah ditetapkan atau bahkan telah dibakukan. Perbandingan hasil pengamatan terhadap kriteria itu akan memperlihatkan sekaligus kekuatan dan kelemahan si pembuat hasil karya itu. Kekuatan yang dijumpai dalam hasil karya itu merupakan sesuatu yang perlu dipupuk, sedangkan kelemahan-kelemahannya merupakan sesuatu yang memerlukan perhatian khusus untuk diperbaiki.

Demikian Memahami Bimbingan Belajar, semoga bermanfaat bagi para pendidik Islam.
Advertisement
Memahami Bimbingan Belajar