Pemuda Sebagai Agent Perubahan

Pemuda Sebagai Agent Perubahan - Pemuda menjadi simbol kekuatan dan napas perjuangan suatu bangsa .Hal ini tak lepas dari kodrat pemuda sebagai pemegang tongkat estafet penerus sejarah. Untuk itu pemuda harus bisa menjadi agen pembawa perubahan yang akan membawa bangsa ini kearah yang lebih baik. Pemuda hendaknya lebih memahami eksistensinya sebagai generasi penerus yang memiliki konsep hidup untuk membawa pencerahan bagi pembangunan bangsa.

Pemuda memiliki semangat juang yang tinggi untuk mencapai suatu tujuan, memiliki kekompakan dan keberanian dalam merebut kemerdekaan yang hakiki. Pada awal abad 20 Perjuangan dan peran pemuda dalam sejarah bangsa Indonesia yang begitu dikenal ialah momentum saat lahirnya organisasi pergerakan Boedi Oetomo.

Indonesia seakan mendapat suatu kekuatan baru untuk terlepas dari penjajahan. Boedi Oetomo menjadi angin segar pergerakan pemuda Indonesia yang dahulunya memiliki sifat kedaerahan kini berubah menjadi bersifat kebangsaan. Lahirnya Boedi Oetomo membuat lahirnya organisasi lain yang juga bersifat kebangsaan seperti, Serikat Dagang Islam, NU dan Muhammadiyah. Sejak saat itu Pemuda Indonesia tidak lagi terkotak-kotak dan bersatu dalam semangat perjuangan kebangsaan.

Hadirnya Organisasi-Organisasi pergerakan Nasional ini menjadi momentum lahirnya Sumpah Pemuda pada Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928 yang menghasilkan kebulatan tekad untuk membebaskan Indonesia dari tangan penjajah.[2] Perjuangan pemuda yang dulunya terbagi atas semangat kedaerahan kini menjadi suatu semangat nasionalisme untuk mewujudkan kemerdekaan.

Potret Pemuda Masa Kini

Pemuda adalah manusia unggulan, karena memiliki, mimpi, intelektual revolusioner, serta semangat yang berkobar. Bung karno sebagai bapak revolusi pernah berkata dalam pidatonya,”beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia dunia”.[3] Hal ini menandakan betapa hebatnya kekuatan yang dimiliki pemuda hingga menjadi suatu manusia spesial untuk kemajuan suatu bangsa

Dewasa ini, pemuda tidak lagi memiliki semangat perjuangan seperti yang dimiliki para pahlawan kita dahulu. Padahal dahulu para pahlawan hidup di zaman yang serba kekurangan dan di bawah belenggu penjajahan. Masih mengiang dipikiran kita bagaimana semangat yang dikobarkan Bung Tomo, ketekunan yang ditunjukkan Sutan Syahrir dan persatuan yang selalu didengungkan Soekarno.

Mereka seharusnya bisa menjadi pemicu semangat pemuda untuk menjadi pemuda yang berguna bagi pembangunan bangsa. Pemuda masa kini terjebak pada materialistis dan hedonisme sehingga cenderung bersifat apatis terhadap rasa nasionalisme.[4] Bahkan yang paling menyedihkan, pemuda Indonesia terjebak pada masalah perpecahan. Hal seperti ini bisa kita lihat ketika adanya tawuran di sekolah-sekolah, kampus-kampus.

Pemuda telah kehilangan konsep diri sebenarnya. Tolok ukur keberhasilan pemuda kini hanya sebatas materi dengan mengenyampingkan semangat idealisme. Kehilangan rasa percaya diri karena tidak adanya kepercayaan yang penuh untuk mengemban tanggung jawab oleh para generasi sebelumnya telah mengacau pikiran kaum muda. Ditengah gempuran globalisasi, membuat keadaan ini semakin parah.

Seharusnya disaat sekarang harus ada kekuatan penyeimbang yang dapat membendung nilai–nilai yang buruk dari pengaruh globalisasi itu. salah satu faktor yang menyebabkan hilangnya identitas pemuda ialah tidak adanya figur panutan yang dapat membakar semangat pemuda. Figur yang ada saat ini hanya memberikan kekecewaan sehingga muncul pemikiran yang destruktif yang mementingkan diri pribadi. Para golongan tua tidak memberikan kaum muda peluang yang besar untuk maju, sekalipun memiliki potensi yang besar, karena orang yang memiliki potensi yang besar dianggap sebagai suatu ancaman langgengnya kepemimpinan yang sedang dijalankan.

Pemuda Harus Sadar

Kemunduran yang dialami kaum pemuda merupakan puncak klimaks dari sistem yang dibuat pemerintah sendiri, tanpa disadari ini berimbas pada pola pikir pemuda masa kini. Mahalnya biaya pendidikan, tingginya angka korupsi dan tingginya angka menyebabkan keputusasaan yang terbentuk di dalam diri. Dengan demikian kaum pemuda lebih cenderung egois tanpa mau memikirkan dinamika yang ada ditengah-tengah masyarakat.

Dengan keadaan seperti itu pemuda harus sadar, karena sistem yang salah tidak serta merta dijadikan alasan untuk menyia-nyiakan peran pemuda dengan cara mengalihkan kepada sikap hedonis dan apatis. Jika demikian yang terjadi maka pemuda kehilangan eksistensinya untuk turut serta membangun bangsa. Tidak sepantasnya pemuda mengalah dengan keadaan, jiwa heroik yang dimiliki pemuda cukup menjadi langkah awal untuk mengembalikan peran pemuda sebagai tonggak kemajuan bangsa.

Pemuda sendirilah yang bisa mereposisi kembali posisinya sebagai penggerak semangat nasionalisme dan agen perubahan sejarah bangsa. Lahirnya sikap apatis dalam diri pemuda akan berdampak buruk bagi kemajuan bangsa. Pemuda adalah pemimpin masa depan,[5] kalimat ini memang benar adanya Jika saat ini pemuda memiliki kualitas yang buruk maka nantinya akan lahir pemimpin–pemimpin yang buruk, begitu juga sebaliknya.

[1] Cahyo Budi Utomo, Dinamika pergerakan kebangsaan Indonesia: dari kebangkitan hingga kemerdekaan (Semarang: IKIP Semarang Press, 1995), hal 114.
[2] Muhammad Umar Syadat Hisbuan, Refolusi Politik Kaum Muda (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2008) hal 33.
[3] Anjar Any, Bung Karno siapa yang punya (Solo: Sasongko Solo, 1978), hal 125.
[4] Harlis Kurniawan, Kado Cinta Untuk Remaja (Depok: PT. Lingkar Pena Kreativa, 2008), hal 94.
[5] Henk Schulte Nortdholt (ed.) Outward appearances: trend, identitas, kepentingan (Yogyakarta: LkiS, 2005) hal 336.
Advertisement
Pemuda Sebagai Agent Perubahan