Perkembangan filsafat Islam

Perkembangan filsafat Islam - Permulaan Islam sampai akhir abad pertama, pada masa permulaan Islam sampai akhir abad pertama, di kalangan masyarakat Islam belum terlihat adanya asas pikiran secara filsafat dan belum tampak tokoh-tokoh filsafat yang mengemukakan teori-teori tentang filsafat. Hal ini disebabkan beberapa faktor, yaitu sebagai berikut:

Pertama: Pada masa-masa itu mereka belum mempunyai kesempatan untuk membuat teori dan pendapat-pendapat dalam bentuk apapun juga di lapangan filsafat, lantaran kesibukan mereka dalam mendakwahkan Islam.

Kedua: Pada masa-masa itu kedatangan Islam masih baru benar, yang masa tersiarnya belum berapa lama. Masyarakat Islam pada periode ini sedang hangat dan bersemangat menerima, mempelajari dan menyiarkan Islam, sehingga pikiran-pikiran yang di luar itu tidak mendapat perhatian mereka. Itulah sebabnya hal-hal yang bertalian dengan filsafat belum sempat diwujudkan.

Pada periode Bani Umayyah

Orang-orang Islam pada periode Bani Umayyah dan pada masa-masa sebelum diterjemahkannya buku-buku asing ke dalam bahasa Arab, belum memiliki berfilsafat. Mereka belum memiliki ilmu yang teratur yang dapat dipergunakan untuk menggambarkan dan menjelaskan keadaan alam dan manusia serta mereka belum berfikir secara filsafat yang didasarkan kepada berpikir merdeka dan bebas dari pengaruh-pengaruh kepercayaan.

Hal ini disebabkan sebagai berikut:
  1. Mereka hanya memperhatikan ilmu-ilmu yang berhubungan dengan agama dan bahasa mereka saja.
  2. Mereka selalu memikirkan pemeliharaan kerajaan belaka, sedangkan kedudukan kerajaan itu tidak disukai oleh banyak golongan lainnya, misalnya: Syia'ah, Khawarij dan Abbasiyah.
  3. Mereka ingin memperluas kekuasaannya dan juga kebudayaannya, terutama yang berhubungan dengan Al Quran dan Al Hadits.
  4. Cara berfikir mereka boleh dikatakan masih sederhana, sehingga berfikir mendalam secara logika belum terlihat.
  5. Pertikaian yang terus-menerus dalam hal berfikir yang diikuti oleh pertikaian politik. Dalam kerajaan terjadi perebutan kekuasaan, baik dari golongan dalam sendiri maupun dari pihak luar.

Pada abad penterjemahan (Bani Abbasiyah)

Kerajaan Abbasiyah berdiri pada tahun 132 H, atau 20 Agustus 749 M. Kerajaan ini mempunyai corak yang berlainan dengan kerajaan Bani Umayyah, karena mengandung kehidupan cara berfikir yang baru yang belum pernah dialami oleh umat Islam sebelumnya.

Kehidupan cara berfikir baru yang dimaksudkan ialah bahwa pemimpin-pemimpin Abbasiyah menaruh kecenderungan kepada ilmu pengetahuan serta pembahasannya secara meluas dan mendalam.

Kehidupan berfikir baru itu timbul disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:
  1. Mereka sudah banyak bergaul dengan umat dan bangsa lain yang mempunyai kebudayaan tinggi.
  2. Banyak terpengaruh kepada bermacam-macam kebudayaan umat atau bangsa yang berada di bawah kekuasaan Islam.
Akibat positif dari kedua faktor tersebut di atas adalah bahwa umat Islam pada masa itu giat memindahkan ilmu pengetahuan dari umat lain yang mempunyai kebudayaan yang lebih tua. Mereka memindahkan ilmu pengetahuan di bidang peradaban dan politik dari Parsi, ilmu hitung (matematika) dan ilmu hikmah dari India dan berbagai macam ilmu pengetahuan dari Yunani, terutama filsafat.

Dengan demikian, apa yang dipindahkan dari kebudayaan asing (Yunani) itu terutama filsafat inilah yang membukakan fikiran umat Islam untuk terjun ke gelanggang pembahasan filsafat dan untuk aktif dalam usaha-usaha memperbaruhi pembahasan filsafat.

Demikian sekilas mengenai Perkembangan filsafat Islam, semoga menambah pengetahuan kta dalam belajar agama Islam.
Advertisement
Perkembangan filsafat Islam