Upaya Membantu Siswa yang Mengalami Masalah Belajar

Siswa yang mengalami masalah belajar seperti diutarakan didepan perlu mendapat bantuan agar masalahnya tidak berlarut-larut yang nantinya dapat mempengaruhi proses perkembangan siswa. Beberapa upaya yang dapat dilakukan adalah dengan:
  1. pengajaran perbaikan
  2. kegiatan pengayaan
  3. peningkatan motivasi belajar, dan
  4. pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang efektif.

Pengajaran Perbaikan

Pengajaran perbaikan merupakan suatu bentuk bantuan yang diberikan kepada seorang atau sekelompok siswa yang menghadapi masalah belajar dengan maksud untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang paling pokok berupa kesalahan pengertian, dan tindakan pengertian, dan tidak menguasai konsep-konsep dasar. Apabila kesalahan-kesalahan itu diperbaiki , maka siswa mempunyai kesempatan untuk mencapai hasil belajar yang optimal.

Di bandingan dengan pengajaran biasa, pengajaran perbaikan sifatnya lebih khusus, karena bahan, metode dan pelaksanaannya disesuaikan dengan jenis, sifat dan latar belakang masalah yang dihadapi siswa. disamping itu, bekerja dengan siswa-siswa yang mengikuti pelajaran di kelas biasa. Kalau di dalam kelas biasa unsur emosional dapat dikurangi sedemikian rupa, maka siswa yang sedang menghadapi masalah belajar justru sebaliknya. Ia (mereka) mungkin dihinggapi oleh berbagai perasaan takut, cemas, tidak tentram, bingung, bimbang, dan sebagainya.

Dalam hal ini amatlah penting bagi guru dan konselor memahami perasaan-perasaan siswa yang seperti itu. Tingkah laku yang ditampilkan oleh siswa menghendaki adanya perhatian dari guru dan konselor adalah mendorong siswa untuk mau belajar.

Kegiatan Pengayaan

Kegiatan pengayaan merupakan suatu bentuk layanan yang diberikan kepada seorang atau beberapa orang siswa yang sangat cepat dalam belajar. Mereka memerlukan tugas-tugas tambahan yang terencana untuk menambah memperluas pengetahuan dan keterampilan yang telah dimilikinya dalam kegiatan belajar sebelumnya.

Siswa-siswa seperti ini sering muncul dalam kegiatan pembelajaran dengan menggunakan sistem pengajaran yang terencana secara baik. Misalnya, sistem pengajaran dengan modul, paket belajar, dan pengajaran yang berprogram lainnya. Siswa yang amat cepat belajar hampir selalu dapat mengerjakan tugas-tugas lebih cepat dari rekan-rekan mereka dalam waktu yang ditetapkan.

Dilihat dari segi prestasi atau hasil belajar, siswa-siswa yang amat cepat belajar itu sebenarnya tidak tergolong sebagai siswa yang menghadapi masalah belajar. Bahkan semua siswa harus didorong untuk dapat mencapai hasil belajar yang baik seperti itu. Masalah yang akan muncul terletak pada kemungkinan dampak yang timbul sebagai akibat dari kecepatan belajar yang tinggi itu. Dampaknya dapat positif dan dapat negatif.

Kecepatan belajar yang tinggi akan mempunyai dampak positif apabila siswa merasa dirinya diperhatikan dan dihargai atas keberhasilan dan kemampuannya dalam belajar. Selanjutnya ia akan berusaha da potensi yang dimilikinya. Sebaliknya, kecepatan belajar itu akan mempunyai dampak yang negatif apabila siswa merasa kurang diperhatikan dan dihargai. Mereka cenderung menjadi patah hati, tidak bersemangat, jera dan sebagainya. Dalam hubungannya dengan siswa-siswa lain, mereka mungkin menjadi siswa yang mengganggu atau salah tingkah. Hal ini kemungkinan besar justru menurunkan prestasi belajar mereka.

Peningkatan Motivasi Belajar

Alasan mengapa siswa belajar sangat bersifat subjektif. Semua alasan itu merupakan hal-hal yang mendorong (atau motif) siswa untuk belajar.\

Di sekolah sebagian siswa mungkin telah memiliki motif yang kuat untuk belajar, tetapi sebagian lagi mungkin belum. Di sisi lain, mungkin juga ada siswa yang semula motifnya amat kuat, tetapi menjadi pudar. Tingkah laku seperti kurang bersemangat, jera, malas, dan sebagainya, dapat dijadikan indikator kurang kuatnya motif (motivasi) dalam belajar.

Guru, konselor dan staf sekolah lainnya berkewajiban membantu siswa meningkat motivasinya dalam belajar. prosedur-prosedur yang dapat dilakukan adalah dengan:
  1. Memperjelas tujuan-tujuan belajar. siswa akan terdorong untuk lebih giat belajar apabila ia mengetahui tujuan-tujuan atau sasaran yang hendak dicapai.
  2. Menyesuaikan pengajaran dengan bakat, kemampuan dan minat siswa.
  3. Menciptakan suasana pembelajaran yang menantang, merangsang dan menyenangkan.
  4. Memberikan hadiah (penguatan) dan hukuman bilamana perlu.
  5. Menciptakan suasana hubungan yang hangat dan dinamis antara guru dan murid serta antara murid dan murid.
  6. Menghindari tekanan-tekanan dan suasana yang tidak menentu (seperti suasana menakutkan, mengecewakan, membingungkan, menjengkelkan)
  7. Melengkapi sumber dan peralatan belajar

Pengembangan Sikap dan Kebiasaan Belajar yang Baik

Sebagian siswa memang memerlukan bantuan untuk mampu melihat secara kritis sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan belajar yang mereka miliki. Melalui bantuan itu mereka diharapkan dapat menemukan kelemahan-kelemahan mereka dalam belajar, dan selanjutnya berusaha mengubah atau memperbaiki kelemahan-kelemahannya itu.

Sikap dan kebiasaan belajar yang baik tidak tumbuh secara kebetulan, melainkan sering kali perlu ditumbuhkan melalui bantuan yang terencana, terutama oleh guru-guru konselor, dan orang tua siswa. Untuk itu siswa hendaklah dibantu dalam hal sebagai berikut:
  • Menemukan motif-motif yang tepat dalam belajar.
  • Memelihara kondisi kesehatan yang baik.
  • Mengatur waktu belajar, baik di sekolah maupun dirumah.
  • Memilih tempat belajar yang baik.
  • Belajar dengan menggunakan sumber belajar yang kaya, seperti buku-buku teks dan referensi lainnya.
  • Membaca secara baik dan sesuai dengan kebutuhan, misalnya, kapan membaca secara garis besar, kapan secara terinci, dan sebagainya.
  • Tidak segan-segan bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahui kepada guru, teman atau siapa pun juga.
Dalam layanan bimbingan belajar peranan guru dan konselor adalah saling membantu, mengisi dan menunjang. Guru sebagai penguasa lapangan dan penggerak kegiatan pembelajaran siswa, sedangkan konselor sebagai arsitek, penasihat dan penyumbang data, masukan dan pertimbangan bagi ditetapkannya layanan bimbingan belajar. konselor dapat membantu penyelenggaraan, mengolah dan menafsirkan nilai-nilai tes hasil belajar, tetapi tes itu sendiri dibuat oleh guru. Dalam hasil itu memang diharapkan adanya tes hasil belajar yang sudah dibakukan, tetapi sambil menunggu tersedianya tes baku itu, “tes buatan guru” adalah sangat penting.

Demikian Upaya Membantu Siswa yang Mengalami Masalah Belajar, semoga menuai manfaat dalam belajar agama Islam.
Advertisement
Upaya Membantu Siswa yang Mengalami Masalah Belajar